Tahukah ketika Anda marah?
Saat marah, tubuh mengeluarkan
hormon adrenalin. Hormon ini memicu pecahnya cadangan energi tubuh dalam
bentuk ATP atau adenosin tri phosphat dan ADP atau adenosin di-phosphat
yang menghasilkan energi instan. Metabolisme tubuh seperti ini tentu
sangat beralasan. Ketika marah maka tubuh mengeluarkan energi panas dan
siap untuk berkonflik. Kelebihan energi ini menyebabkan jantung berdetak
lebih cepat, membuat kita memiliki tenaga lebih dan bisa berpikir lebih cepat.
Energi cadangan ini keluar saat kita berada dalam ancaman luar atau
kondisi terdesak. Dalam keadaan marah misalnya. Keadaan ini memaksa
tubuh mengeluarkan energi cadangannya. Sehingga setelah marah wajar saja
kalau tubuh menjadi lemas dan capek. Dan langsung tertidur pulas.
“Energi yang keluar saat marah adalah makanan ‘Mr. J’ atau jin”, kata
kang Dicky, ahli metafisiak. Hm tidak heran jika jin dan iblis senang
kalau kita marah. Saya jadi teringat dengan kisah Adam dan Hawa di surga
yang diganggu iblis. Hingga akhirnya mereka berkhuldi karena godaannya.
Itu merupakan awal mula iblis berikrar pada Allah SWT bahwa dia akan
terus menggangu dan menggoda manusia agar melawan perintah-Nya. Termasuk
larangan Allah SWT untuk marah.
Setelah tahu efek negative
marah, apakah masih berpikir untuk marah lagi pada orang di sekitar
anda? Ataukah malah bingung bagaimana caranya agar tidak mudah marah?
Ada contoh menarik, Saya punya teman sensitive dan emosian.
Sedikit-sedikit marah. Hal sepele pun dia ributkan. Sms tak dibalas,
janji dibatalkan, kata-kata yang menyinggung perasaannya dan lain
sebagainya. Memang marah tanpa adu fisik. Namun tetap saja itu dinamakan
marah. Kenapa dia begitu? Mungkin egonya tinggi dan kurang bisa
memaklumi orang lain. Mind set dia salah. Hanya mementingkan
kepentingan dirinya sendiri. Tak mau tahu urusan orang lain. Ya, marah
itu karena belum memaklumi orang lain. Beda dengan nabi Muhammad yang
tidak pernah marah, tingkat pemaklumannya tinggi. Meskipun beliau di
caci-maki bahkan dilempari kotoran binatang, nabi tidak marah malah
mendoakan mereka yang menzalimi. Coba bayangkan seandainya kita bisa
menurunkan ego dan memaklumi orang lain seperti nabi? Mungkin kita tidak
akan bisa marah. Meskipun marah sekalipun, cepat reda karena mudah
dinetralisir.
Sepertinya prinsip turunkan ego dan maklumi orang
lain seharusnya ditanamkan pada setiap pikiran manusia. Karena pada
dasarnya manusia itu egois. Suka mementingkan diri mereka sendiri. Dan
mungkin jarang manusia yang berjiwa altruis. Sehingga sangat mungkin
konflik berkembang. Kuncinya dua. Turunkan Ego, Maklumi Orang Lain!
Agar marah tidak lagi menggangu pikiran. Pun supaya tetap di jalan Allah
SWT